Cerita Hanum Tentang Amien Rais yang Akan Ditangkap Pak Harto

439
Amien Rais

JAKARTA – Putri kedua mantan Ketua MPR Amien Rais, Hanum Salsabiela Rais punya kenangan khusus tentang sepak terjang ayahnya di dunia politik.

Dia pernah meminta kepada ayahnya agar tidak lagi terjun ke dunia politik. Salah satu pertimbangannya, Amien pernah gagal dalam kontestasi di pemilihan presiden (Pilpres) pasca-reformasi.

“Pak, ngapain mikirin bangsa ini, sudahlah berhenti saja, jadi orang selalu gagal. Dulu saya katakan seperti itu,” kata Hanum Salsabiela Rais dalam acara “Tribute to Amien Rais” di Jakarta, Sabtu malam (20/5/2017).

Permintaan Hanum itu bukan tanpa alasan. Partai politik yang diprakarsai Amien, Partai Amanat Nasional (PAN) gagal dapat hasil yang menggembirakan pada Pemilu 1999.

Pada Pilpres 2004, Amien yang berpasangan dengan Siswono Yudhohusodo juga mesti rela tersisih pada putaran pertama dari lima pasangan calon yang maju pada saat itu.

Hanum kemudian menganalogikan Amien sebagai dokter yang rela mengabdikan diri untuk menyelamatkan pasien.

“Pak saya ini dokter, dokter gigi. Kalau ada pasien yang sakit parah tak bisa diselamatkan. Kemudian ada seorang dokter yang rela mengulurkan tangannya untuk menolong agar terbebas dari marabahaya. Tapi pasien itu tidak mau ya sudah tinggalkan saja,” kata Hanum.

Menurut Hanum, larangan kepada Amien itu sudah dia lontarkan sejak lama. Itu karena beberapa alasan.

Penulis “99 Cahaya di Langit Eropa” dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika” itu masih sangat ingat kejadian pada Rabu malam, 20 Mei 1998 ketika ayahnya dikabarkan akan ditangkap Soeharto yang saat itu menjadi Presiden RI.

Saat itu, ayahnya yang sedang berada di Lamongan menelepon ibu Hanum, Kusnasriyati Sri Rahayu yang berada di Jakarta. Dari Lamongan, Amien memberi kabar yang kurang baik.

“Katanya, ada tiga sahabatnya, Pak Adi Sasono, Sri Edi Swasono kakak Sri Bintang Pamungkas, Parni Hadi. Mereka bilang, Pak Amien jangan ke Jakarta. Ini sudah A1 Pak Amien akan ditangkap rezim Soeharto, jadi jangan ke Jakarta,” cerita Hanum.

Dapat kabar seperti itu, nyatanya tak membuat ayahnya mengurungkan langkahnya berangkat ke Ibu Kota. Apalagi, ibunda Hanum atau istri Amien Rais, mengikhlaskan apapun yang terjadi.

“Ibu bilang ke bapak, Bismillah yang ikhlas berjuang, jangan ada pamrih, interest. Tak perlu terpikir keluarga, insya Allah saya bojomu bisa membesarkan anak-anak dengan jualan batik,” kata dia.

“Ibu tak ingin terlihat tidak tegar di telepon, peluk kita semua, bilang doakan bapakmu yang sedang berjuang,” tambah Harum.

Hanum juga masih ingat bagaimana pada 2001 silam, rumah neneknya di Solo dibakar massa.

“Warga Solo tak terima bapak dianggap jadi orang yang paling bertanggung jawab karena Megawati tak terpilih di Pilpres 1999. Rasanya nyesek di dada,” aku Hanum.

Setelah bertahun-tahun, kini ia menemukan jawaban, atas perjuangan tanpa henti yang dilakukan ayahnya itu meski tak selalu seperti yang diharapkan.

“Berjuang tanpa akhir itu saya temukan jawabannya, setelah menikah 11 tahun. Ingin punya keturunan hampir 11 tahun, hampir putus asa, depresi, berkali-kali gagal. Bayi tabung juga gagal 6 kali. Itu bukan sesuatu yang mudah diterima sebagai perempuan,” kata Hanum.

Hanum yang menikah dengan Rangga Almahendra kini memiliki seorang putri.

“Bapak bilang, Nung lihat bapak gagal ini, gagal itu, tapi Nung perjuangan itu tak ada akhirnya. Terus usaha, agar bisa hamil, jangan putus asa, jangan lemah iman. Itulah yang bisa dilakukan orang beriman,” tutup lulusan dari Fakultas Kedokteran Gigi UGM tersebut.

Penulis: Moh. Nadlir
Sumber: tribunnews.com

comments

LEAVE A REPLY