Ketulusan yang Tersakiti Itu Kini Melahirkan Karma

1922

Karma atau apalah bahasa kalian, saya hanya ingin menulis sebuah kisah dimana saya menjadi saksi dari sebuah pengkhianatan.

Saya tidak akan menulis detail, saya akan persingkat saja. Jadi ketika Pak Jokowi sudah mulai dilirik Bu Mega, persoalan muncul karena PDIP hanya punya 11 kursi ( kalau tdk salah) jadi tidak bisa mendafatar sendiri , diperlukan 4 kursi lagi.

Pak Jokowi yg tdk begitu mengenal orang politik dan punya uang utk memberi mahar partai politik, akhirnya menghubungi Hasjim Djojohadikusumo yg tak lain adalah adik Pak PS, untuk mendukungnya karena Gerindra punya 6 kursi.

Ternyata meski kursi sudah cukup utk mendaftar, namun Bu Mega masih belum memberikan restu untuk Jokowi ( kala itu belum ada pasangannya). Lalu Prabowo-lah yg berjibaku melobi Megawati agar PDIP mau mencalonkan Jokowi.

Untuk meyakinkan Bu Mega, Prabowo kemudian mengajak JK utk memastikan bahwa, ia ( Prabowo yg akan mencari dananya) , karena waktu itu alasan Bu Mega tidak mencalonkan Jokowi karena PDIP gak punya modal untuk membiayai Jokowi.

Saat restu Megawati sudah dikantongi, persoalan muncul , siapa yg jadi wakilnya Jokowi? Dan atas rekomendasi Hasjim Prabowo akhirnya menerima nama Ahok yg kala itu hanya anggota komisi II DPR RI dari fraksi Golkar , yg juga mantan Bupati Belitung Timur yg pernah Nyagub di Babel tapi gagal.

Saat nama Ahok disodorkan Pak PS ke Bu Mega sebetulnya kurang sreg, dan lebih sreg memilih satu nama (maaf tidak saya sebutkan). Bahkan Jokowi terang -terangan keberatan berpasangan dengan Ahok . Kok saya tahu ? Sekitar pukul 10 malam sebelum esok mendaftar ke KPU. Jokowi menilpon saya dan curhat soal keberatannya berpasangan dengan Ahok. Lalu saya mendorong dia (Pak Jokowi) utk menerima, karena dia pilihan Prabowo, saya khawatir kalau Pak Jokowi pilih sendiri, nanti Gerindra batal memberikan kursinya. Setelah panjang lebar saya bicara dengan Pak Jokowi ( nomer tlp saya masih sama, kalau saya bohong pasti masih ada rekamannya yg bisa dibuka), akhirnya Pak Jokowi legowo menerima Ahok sebagai pasangannya.

Sekedar informasi teman, sebelum akhirnya Prabowo pindah ke lain hati dukung Jokowi dan bawa Ahok sebagai wakilnya, Gerindra sudah mendukung (menandatangani surat dukungan ) untuk mendukung Foke dengan janji mahar yg tidak kecil.

Sikap Prabowo yg malah mati -matian mendukung Jokowi dan Ahok, membuat pengurus DPP Gerindra kalang kabut, karena sudah berjanji dan teken mendukung Foke.

Prabowo ngotot mendukung Jokowi dan Ahok, dengan alasan karena keduanya masih muda , berasl dari daerah , dan dalam kaca mata Prabowo memiliki hati “merah putih” , dimana Prabowo berharap bisa membawa kemajuan bagi Jakarta.

Puluhan milir uang Hasjim (adik Prabowo) dan juga uang pribadi Prabowo digunakan untuk memenangkan pasangan ini. Dan luar biasa dengan dana yg tidak apa-apanya dibanding Foke, lewat tangan dingin Prabowo yg kala itu masih punya hubungan “mesra” dengan Megawati, maka pasangan ini akhirnya menang.
Namun apa akhirnya yg diterima Prabowo ??? Sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan pertama terjadi saat Ahok keluar dari Gerindra dengan statement-statment yg sangat menyudutkan Gerindra, kemudian yg kedua, Ahok yg tadinya NOTHING dan diangkat derajatnya oleh Prabowo jadi Wakil Gubernur DKI, ternyata tidak mendukung Prabowo saat Pilpres, tetapi malah mendukung Jokowi saat Pilpres.

Lihat di foto yg saya sertakan, betapa tulus dan bangganya Prabowo saat menerima Ahok di rumahnya, tak lama setelah Ahok dilantik jadi Wagub. Dan saat Ahok datang ke Hambalangkemudian bertanya pada Prabowo, Pak Prabowo minta apa karena sudah membantu dia jadi Wagub ? Prabowo menggeleng tegas sambil mengatakan, “Saya tidak minta apa-apa, jadilah Anda Pejabat yg baik , pejabat yg tidak korup dan mencintai rakyat ” ujar Prabowo dengan suara luar biasa tulus dan bijak bak seorang ayah pada anaknya. Tak hanya itu, Prabowo juga berpesan bahkan kalau ada orang2 Gerindra yg minta proyek , ia minta Ahok lapor kepadanya.

Teman, namun ketulusan itu akhirnya dibalas air tuba, namun Prabowo tidak pernah marah atau membalas atas pengkhiantan itu, bahkan saat kemarin Ahok sudah kalah, dia meminta pendukungnya untuk tidak mengolok -olok Ahok.

Ahok yg bukan siapa-siapa kemudian menjadi legendaris karena ketulusabn Prabowo yg mengangkatnya, namun kemudian mengkhianati Prabowo dan keluarganya, kini berada di Cipinang.

Ini pembelajaran kita semua, jangan pernah menjahati atau berkhianat pada orang yg tulus ikhlas membantu kita.

Dalam hal ini Prabowo sendiri tidak memiliki dendam, karena dia pernah bilang saking sering dikhianati ia sudah resisten terhadap rasa sakit. Bahkan ia selalu memaafkan siapa saja yg menyakitinya. Namun Allah tentu tidak begitu saja menerima hambanya yg tulus dikhianati, apakah kini Ahok menerima sebuah KARMA atas kebaikkan dan ketulusan seorang Prabowo? Allahualam…

Pesan saya hati-hati saja yg sudah berkhianat pada Pak PS, siapa tau akan menyusul seperti halnya Ahok….

Oleh Nanik S Deyang [obi] | OPINIBANGSA

comments

LEAVE A REPLY